Tuesday, March 19, 2019

CINTA DAN POLITIK


Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Erich Fromm dalam buku larisnya (The Art of Loving) ada lima syarat untuk mewujudkan cinta yaitu perasaan, pengenalan, tanggungjawab, perhatian dan saling menghormati.(Foto Saya berserta teman saya )

Pada kesempatan ini penulis hanya mengambil satu referensi pengertian politik yang menunjuk kepada satu segi kehidupan manusia bersama masyarakat, lebih mengarah kepada politik sebagai suatu usaha untuk memperoleh kekuasaan, memperbesar atau memperluas serta mempertahankan kekuasaan.

Lalu, apa itu cinta? Cinta adalah kebaikan, ketulusan, keikhlasan, dan pengorbanan. Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Erich Fromm dalam buku larisnya (The Art of Loving) ada lima syarat untuk mewujudkan cinta yaitu perasaan, pengenalan, tanggungjawab, perhatian dan saling menghormati.

Namun pada intinya cinta merupakan anugerah Ilahi yang harus disyukuri, seperti kata Khalil Gibran "Ketika cinta memanggilmu maka datanglah kepadanya walaupun sayapnya penuh dengan belati yang dapat melukaimu". Entah dari mana pemikiran tersebut namun Gibran mendeskripsikan bahwa ternyata cinta itu merupakan sebuah hal yang harus diterima, dan satu hal lagi bahwa cinta itu merupakan sesuatu yang begitu suci serta merupakan naluri setiap manusia.

Akhir-akhir ini politik sering dianggap sebagai suatu medan aktulalisasi sehingga ia hadir tanpa substansi, muncullah kemudian opini publik bahwa politik itu kotor. Simpulan semacam itu tak bisa kita elakan, karena masyarakat hanya mendefinisikan politik dari informasi yang mereka tangkap.

Seperti apatisme masyarakat demikian pula mereka yang menjadi pelaku dalam dunia politik praktis. Wajar ketika muncul sebuah keresahan terkait stigma tersebut meskipun stigma itu tak sepenuhnya benar.

Sebagai upaya untuk menyejukkan suasana seperti itu, maka ada baiknya kita melihat politik dari perspektif lain, yakni cinta. Mungkin sontak terlintas dalam benak saudara pembaca pertanyaan seputar apa hubungan cinta dan politik, dan ada apa dengan cinta?

Cinta selalu diawali dari ketertarikan yang kemudian punya komitmen bersama untuk menjalani sebuah ikatan atau hubungan dan saling menghargai, menerima dan memberi atas dasar kepercayaan dan keyakinan yang dijalani. sedangkan politisi adalah seseorang yang terlibat dalam politik bahkan ahli dalam bidangnya serta ikut dan berperan dalam pemerintahan.

Cinta dan politik memang merupakan dua hal yang berbeda, tetapi mereka terdapat kesamaan yang sering dipersoalkan yaitu janji cinta dan janji politik. Sehingga kesetiaan cinta dan politik dipertaruhkan dalam setiap episode kehidupan mereka. Jika kesetiaan itu tidak menjadi pedoman dasar dalam setiap langkah yang ditempuh di kemudian hari maka akan diakhiri dengan kekecewaan, baik itu dalam cinta maupun dalam politik yang dijanjikan oleh para politisi.

Seringkali dalam perjalanan waktu, janji hanyalah kata pemanis belaka, maka kesetiaan akan dipertaruhkan dalam episode kehidupan. Dalam cinta awalnya dibumbui dengan kata-kata manis dan janji-janji kesetiaan maka disaat terakhir pula terjadi goncangan kekecewaan bagi yang merasa dikecewakan, penyebab utama mengakhiri sebuah hubungan adalah karena tidak adanya kesetiaan dan berpegang teguh pada janji yang pernah diungkapkan kepada pasangannya.

Begitu pula dengan politisi, mereka kerap berjanji dan menyampaikan janji politik kepada masyarakat ketika mereka sedang membutuhkan masyarakat sebagai konstituen, bahkan janji kerap kali disampaikan pada saat masyarakat tidak mempertanyakan apa janjinya ketika terpilih dan duduk sebagai wakil rakyat di meja parlemen.
Akibat dari banyaknya janji yang mereka sampaikan kepada masyarakat dan mereka juga tergiur dengan kehidupan mewahnya ketika sudah berada di parlemen, dengan begitu janji politiknya pun hanya akan jadi pemanis belaka dan sebagai upaya politisi untuk mencapai kekuasaan di parlemen.

Dalam kajian politik yang paling tinggi, sepertinya cinta menempati posisi yang paling puncak. Tanpa cinta, politik akan kehilangan jati diri dan kehalusan jiwa. Cinta disini bukan seperti romantisan Drama Korea, Kisah Romeo dan Juliet maupun Kisah Lanur dan Timung Te'e, Bukan Itu! Namun cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada rakyat, cinta kepada keadilan, cinta kepada kehidupan aman, tenteram dan sejahtera. Dan lebih penting lagi cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itulah esensialitas perjuangan seorang politisi dalam mengarungi samudra politik yang luas ini.

Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bahwa apabila kita berpolitik, maka haruslah penuh kecintaan yang tulus dan dibuktikan dengan perbuatan, kecintaan bahwa yang dilakukan semata-mata untuk pihak yang kita cintai yakni RAKYAT. Bukan hanya beretorika namun tindakan nihil, bukan cinta pribadi, kelompok maupun keluarga, kalau itu sudah jadi budaya maka hanya ada satu kata, tinggalkan!

Penulis berusaha menarik satu benang merah, dari kedua hal terpopuler tersebut diatas. Jika dilihat lebih dalam politik tersebut lebih condong pada praktisi, sedangkan cinta bersifat fitrawi, mungkin ketika keduanya digabungkan bisa melahirkan satu asimilasi yang cukup menarik seperti "POLITIK Berasaskan CINTA" karena ketika kedua hal tersebut dielaborasikan pasti dapat menghasilkan sebuah hal yang sangat menarik.

Maka mari sama-sama kita berusaha menghaluskan jiwa kita, sebab hanya pada jiwa yang bersih dan halus serta tuluslah cinta itu akan bersemayam. Agar ketika apa yang kita lakukan dalam politik sekarang dan nanti bukan karena dorongan untuk memusuhi, bukan semata-mata karena haus akan kekuasaan, mengkerdilkan atau bahkan menyerangi lawan-lawan kita secara membabi buta, akan tetapi atas dasar rasa cinta kepada rakyat dan kemanusiaan ini.

Akhirnya, semoga dalam perhelatan politik diwaktu yang akan datang, mari kita landasi semua pikiran, tindakan dan segala bentuk perbuatan kita semata-mata karena cinta. Cinta yang tulus dan sungguh-sungguh yang datang dari hati. Karena tanpa Cinta Politik itu Binasa.

No comments: