Tuesday, April 30, 2019

Kau dan Aku Menikmati Langit yang Sama


Izinkan aku untuk sedikit bercerita ditengah terangnya bintang-bintang dan cahaya bulan yang menenangkan. Tak terasa dinginnya angin malam, terkalahkan oleh rindu yang lebih menelisik hingga ku tak mampu memejamkan mata tanpa bayang-bayangmu.

Wahai separuh hatiku, aku kini sedang bersandar pada bantalan-bantalan rindu yang menggunung. Sesungguhnya kita memang terbentang jarak, tapi kita masih dapat menikmati langit yang sama -- meski tak harus berdampingan. Maka aku selalu tenang menikmati langit sampai tak terasa semakin gelap. Kurasakan angin yang meniupkan kehadiranmu dihatiku, kulihat senyummu membentang di antara terangnya bintang dan gelapnya malam.
Jika kau tahu, hati ini selalu berkecamuk antara rindu bercampur dengan rasa takut menjadi senyawa yang bernama “resah”. Aku selalu ingin tahu kabarmu, keadaanmu hari ini, selalu ingin tahu siapa yang bercengkrama denganmu di sana, ingin tahu siapa saja yang bisa dengan mudahnya menikmati senyum dan tawamu setiap hari, ya aku mulai posesif dan semakin posesif atasmu.

Itu yang sesungguhnya selalu kurasakan, tapi seperti yang kukatakan padamu dulu, aku takut. Takut, ketika posesif-ku mengubah kita. Ketika rasa yang semula utuh semakin memudar dari hari ke hari, yang selalu orang lain katakan jenuh atau bosan. Maka sebisa mungkin kututupi rasa ini yang begitu hebat meratap.

Wahai separuh hatiku, percayalah pada kuatnya cinta dan takdir Tuhan. Jika kau untukku, maka sejauh apapun jarak terbentang tak akan menjadi alasan pemisah. Apapun yang kau lakukan disana, aku tak mampu mengetahuinya. Mata ini memang terbatas, tapi tidak dengan mata kepercayaan yang akan selalu melihatmu setiap harinya. Ingatlah kata-kataku, bahwa aku telah memutuskan untuk mengizinkanmu singgah dihati ini, tandanya kaulah pemenangnya.

Kugenggam tanganmu tanpa melihatmu. Maka yang kupinta darimu hanyalah, “Jangan sampai suatu hari nanti, saat aku kembali menengok ke arahmu aku melihat keburukan yang sama sekali tak ingin kutahu. Karena aku hanya ingin tahu bahwa kamu tetap menjadi yang terbaik di mataku, selalu dan tak pernah berubah.”
Semoga kita selalu mampu bertahan, tak lelah berjuang, dan bisa dengan hebat menepis kejenuhan. Tak terkoyak oleh irisan rindu yang kian lama kian mengikis rasa ingin bertemu. Semoga kau di sana selalu mampu menikmati rindu ini sebagai cemilan malammu yang mengasyikan sehingga tak ada satupun yang mampu menggantikanku meski hanya dalam mimpi tidurmu.

No comments: