Tuesday, April 30, 2019


Izinkan aku untuk sedikit bercerita ditengah terangnya bintang-bintang dan cahaya bulan yang menenangkan. Tak terasa dinginnya angin malam, terkalahkan oleh rindu yang lebih menelisik hingga ku tak mampu memejamkan mata tanpa bayang-bayangmu.

Wahai separuh hatiku, aku kini sedang bersandar pada bantalan-bantalan rindu yang menggunung. Sesungguhnya kita memang terbentang jarak, tapi kita masih dapat menikmati langit yang sama -- meski tak harus berdampingan. Maka aku selalu tenang menikmati langit sampai tak terasa semakin gelap. Kurasakan angin yang meniupkan kehadiranmu dihatiku, kulihat senyummu membentang di antara terangnya bintang dan gelapnya malam.
Jika kau tahu, hati ini selalu berkecamuk antara rindu bercampur dengan rasa takut menjadi senyawa yang bernama “resah”. Aku selalu ingin tahu kabarmu, keadaanmu hari ini, selalu ingin tahu siapa yang bercengkrama denganmu di sana, ingin tahu siapa saja yang bisa dengan mudahnya menikmati senyum dan tawamu setiap hari, ya aku mulai posesif dan semakin posesif atasmu.

Itu yang sesungguhnya selalu kurasakan, tapi seperti yang kukatakan padamu dulu, aku takut. Takut, ketika posesif-ku mengubah kita. Ketika rasa yang semula utuh semakin memudar dari hari ke hari, yang selalu orang lain katakan jenuh atau bosan. Maka sebisa mungkin kututupi rasa ini yang begitu hebat meratap.

Wahai separuh hatiku, percayalah pada kuatnya cinta dan takdir Tuhan. Jika kau untukku, maka sejauh apapun jarak terbentang tak akan menjadi alasan pemisah. Apapun yang kau lakukan disana, aku tak mampu mengetahuinya. Mata ini memang terbatas, tapi tidak dengan mata kepercayaan yang akan selalu melihatmu setiap harinya. Ingatlah kata-kataku, bahwa aku telah memutuskan untuk mengizinkanmu singgah dihati ini, tandanya kaulah pemenangnya.

Kugenggam tanganmu tanpa melihatmu. Maka yang kupinta darimu hanyalah, “Jangan sampai suatu hari nanti, saat aku kembali menengok ke arahmu aku melihat keburukan yang sama sekali tak ingin kutahu. Karena aku hanya ingin tahu bahwa kamu tetap menjadi yang terbaik di mataku, selalu dan tak pernah berubah.”
Semoga kita selalu mampu bertahan, tak lelah berjuang, dan bisa dengan hebat menepis kejenuhan. Tak terkoyak oleh irisan rindu yang kian lama kian mengikis rasa ingin bertemu. Semoga kau di sana selalu mampu menikmati rindu ini sebagai cemilan malammu yang mengasyikan sehingga tak ada satupun yang mampu menggantikanku meski hanya dalam mimpi tidurmu.

Monday, April 29, 2019




Master propaganda Third Reich dan diktator dari "kehidupan" keseniannya selama 12 tahun, Joseph Goebbels, dilahirkan dari sebuah keluarga pekerja Katolik taat di Rheydt, Rhineland, tanggal 29 Oktober 1897. Dia disekolahkan di sekolah Katolik Roma dan kemudian belajar sejarah dan sastra di Universitas Heidelberg di bawah bimbingan Profesor Friedrich Gundolf, seorang sejarawan dan sastrawan berdarah Yahudi yang dikenal sebagai pengagum Goethe sejati dan juga teman dekatnya pujangga Stefan George.

Goebbels ditolak masuk ketentaraan selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama karena kaki pincangnya - hasil dari terkena polio di masa balita. Penolakan ini, dan juga akibat dari pengalaman pahit lain yang menimpanya karena ketidaksempurnaan fisik dan kekurang gantengan wajahnya, akan mempengaruhi hidup Goebbels sampai akhir hayatnya. Sebagai kompensasi dari tongkrongannya sendiri yang jauh dari kesan orang Jerman yang tinggi besar, rambut pirang dan mata biru, maka Goebbels berusaha "menutupinya" dengan cara begitu bersemangat dan getol mempromosikan ideologi ras Arya begitu dia masuk NSDAP pada tahun 1922. Sebuah kontradiksi tepatnya.

Permusuhan terhadap para intelek yang diusung oleh "Doktor Kecil" ini, ditambah lagi dengan pandangan ekstrimnya terhadap ras manusia secara umum dan Yahudi secara khusus, belum lagi semangatnya yang menggebu-gebu untuk menghancurkan segala hal yang "suci" dan "tabu", telah mendatangkan simpati dari rakyat Jerman kebanyakan yang sudah muak akan kebangkrutan tatanan sosial dan ekonomi yang menjerumuskan mereka pasca Perang Dunia I.

Pada awalnya Goebbels menemukan penyaluran akan ide-idenya yang nyeleneh itu dalam puisi, drama, dan gaya hidup Bohemia yang dianutnya. Tapi di luar dari novel ekspresionisnya, Michael: ein Deutsches Schicksal in Tagebuchblattern (1926), tak ada "sesuatu" yang keluar dari usaha-usaha kesusastraan pertamanya. Dalam tubuh Partai Nazi-lah semua bakat Goebbels yang melimpah dalam hal pidato, propaganda, oportunisme dan ideologi radikal menemukan tempat yang tepat. Semuanya bermuara pada pemujaannya yang tidak tanggung-tanggung terhadap orang yang mengangkatnya, dan siapa lagi kalau bukan Adolf Hitler.

Pada tahun 1925 dia dijadikan manajer bisnis NSDAP distrik Ruhr, dan pada akhir tahun tersebut Goebbels sudah menjadi kolaborator utama dari Gregor Strasser, pimpinan sayap sosial-revolusioner Jerman Utara dari partai tersebut. Goebbels mendirikan dan menjadi editor utama dari Nationalsozialistischen Briefe (Surat Nasional-Sosialis) dan publikasi lainnya yang dikeluarkan oleh Strasser bersaudara, yang menyuarakan pandangan proletarian anti-kapitalis dan pendorong utama dari penilaian radikal atas segala nilai yang dianut masyarakat Jerman pada saat itu. Sebenarnyalah Goebbels merupakan simpatisan kaum Bolsewik Rusia yang komunis, dan hal itu diwujudkan dalam evaluasinya yang terkenal atas Uni Soviet (dimana dalam pandangannya, mereka merupakan kelompok Nasionalis dan juga Sosialis) yang berbunyi: "Soviet merupakan sekutu alami Jerman dalam melawan nafsu setan dan kebobrokan Barat."

Tahukah anda bahwa pada awalnya Goebbels merupakan pembenci Hitler sejati? Pada tahun-tahun ini dia, yang telah ikut mengarang draft program-program yang diajukan oleh golongan Kiri Nazi dalam Konferensi Hannover tahun 1926, menyerukan dikeluarkannya "Borjuis kacangan Adolf Hitler dari Partai Nasional Sosialis". Insting politik yang tajam dan sikap oportunismenya kemudian mengemuka ketika dengan santainya ia berganti haluan menjadi pengikut Hitler di tahun itu juga, yang langsung dihargai setimpal dengan penunjukannya sebagai pimpinan Nazi distrik Berlin-Brandenburg pada bulan November tahun 1926.

Ditempatkan di sebuah organisasi kecil yang penuh konflik ternyata tidak membuat karir Goebbels meredup. Dengan cepat dia berhasil mengambil-alih kontrol dan dominasi Strasser bersaudara di Jerman Utara, juga monopoli mereka dalam hal jurnalisme partai. Pada tahun 1927 Goebbels mendirikan dan menjadi editor dari koran mingguan Der Angriff (Serangan). Dia juga merancang poster, menerbitkan propagandanya sendiri, mengorganisir parade-parade megah, dan mengatur strategi agar para bodyguard-nya aktif dalam pertempuran di jalanan dan Beer-Hall melawan kaum Komunis. Kesemuanya telah menambah melambungnya nama seorang Joseph Goebbels dalam jajaran partai Nazi yang sedang berkembang.

Pada tahun 1927 "Si Marat dari Berlin Merah, si mimpi buruk dan setan-nya sejarah" telah menjadi demagog paling ditakuti di ibukota Jerman, yang telah menjadi master dari pidato berapi-api penarik massa dengan memanfaatkan suaranya yang berat dan bertenaga, ditambah dengan retorika dan gerak tubuh yang mempesona siapapun yang mendengarkannya. Goebbels bisa dikatakan seorang agitator yang seakan tak punya rasa lelah dalam mewujudkan program-programnya, dan mempunyai bakat luar biasa ketika dia harus melumpuhkan lawan-lawannya dengan menggunakan kombinasi dari hasutan, bujukan, dan tuduhan yang berbisa. Dia tahu bagaimana caranya memobilisasi rasa takut dari begitu banyak pengangguran Jerman ketika Resesi Besar (Malaise) melanda negara tersebut di akhir tahun 1920-an. Psikologi nasional dikendalikannya tanpa kesukaran berarti dengan "kalkulasi sedingin es".

Dengan skill seorang master propaganda, dia telah mengubah seorang pelajar dan germo Berlin, Horst Wessel, menjadi martir paling terkenal Partai Nazi! Tidak hanya itu, Goebbels juga menyediakan slogan, mitos, dan gambaran ideal tentang pesan-pesan Nasional-Sosialisme yang secara kilat menyebar menghunjam ke hati kebanyakan rakyat Jerman.

Tentu saja Hitler tidak tutup mata terhadap prestasi luar biasa Goebbels yang telah mengubah sebuah cabang kecil partai di Berlin menjadi organisasi paling solid di seluruh Jerman Utara! Pada tahun 1929 dia menunjuk manusia "kecil" ini menjadi pimpinan Propaganda Reich dari NSDAP. Ketika mengenang peristiwa tersebut beberapa tahun kemudian (24 Juni 1942), Hitler berkata, "Dr. Goebbels telah dianugerahi oleh dua hal yang tanpanya maka situasi di Berlin tak akan pernah dapat dikendalikan: fasilitas verbal dan intelektualitas... Bagi Dr. Goebbels, yang tak mendapat cukup tempat di partai ketika dia mulai berkiprah, dia telah memenangkan Berlin dalam kata yang sebenar-benarnya."

Tentu saja Hitler pantas berterimakasih pada pemimpin propaganda-nya tersebut, yang merupakan kreator utama dan organisator dari pemujaan terhadap sang Führer, juga yang telah memberikan gambaran sebagai Messiah dan penyelamat Jerman. Tidak hanya itu, Goebbels secara cerdik menyulap Hitler menjadi manusia-setengah-dewa sekaligus membuat rakyat Jerman "menyerah sepasrah-pasrahnya" terhadap keinginan Führer mereka dengan hanya mengandalkan manajemen podium yang cerdik dan manipulasi. Pada dasarnya Goebbels adalah orang yang sarkastis dan selalu menghindari etika/tatanan moral ketika dia "menjual" Hitler ke rakyat Jerman. Hitler secara dahsyat digambarkan sebagai seorang penyelamat Jerman dari tangan dominasi Yahudi, oportunis dan Marxis, juga merupakan pengusung kebangkitan Jerman paling terpercaya.

Sebagai seorang wakil Reichstag dari tahun 1928, dia secara terbuka mengungkapkan rasa sinisme dan penentangannya akan sistem Republik, dengan menyatakan: "Kita memasuki Reichstag dengan tujuan untuk mempersenjatai diri sendiri dengan senjata demokrasi dari arsenalnya langsung. Kita menjadi wakil Reichstag dengan tujuan agar ideologi Weimar akan menjadi penolong utama kita dalam balik menghancurkannya."

Penolakan yang dalam dan berakar dari Goebbels terhadap humanisme, dorongannya untuk menyebarkan kebingungan juga rasa benci dan pemujaan, ambisinya akan kekuasaan dan penguasaannya akan teknik-teknik persuasi massa mencapai puncaknya dalam kampanye pemilu tahun 1932, ketika dia memainkan peran penting dalam membawa Hitler menjadi sorotan utama panggung politik Jerman. Atas perannya tersebut, dia dihadiahi dengan jabatan sebagai Menteri Propaganda dan Pencerahan Publik tanggal 13 Maret 1933, yang memberi dia kontrol penuh atas semua media komunikasi: radio, pers, penerbitan, sinema, dan seni-seni lainnya.

Dia menggerakkan "koordinasi" penuh Nazi akan kehidupan dan kebudayaan masyarakat dengan begitu cepatnya, secara cerdas mengkombinasikan propaganda, suap dan terorisme, "membersihkan" seni atas nama idealisme rakyat, membawahi para editor dan jurnalis dalam kontrol negara, dan tak lupa menghapuskan semua elemen Yahudi dari posisi-posisi berpengaruh baik di politik, ekonomi, maupun seni. Pada tanggal 10 Mei 1933 dia menyelenggarakan ritual akbar "pembakaran buku" di Berlin, dimana hasil-hasil karya pengarang Yahudi, Marxis dan yang dianggap "subversif" lainnya secara resmi dibakar di depan massa dengan menggunakan api unggun yang besarnya amit-amit.

Goebbels menjadi seorang "pemukul" Yahudi yang tak kenal ampun, dengan seringkali menggunakan penggambaran aliansi antara sosok "penyandang dana Yahudi internasional" di London dan Washington, dengan rekan hopeng-nya, "Bolsewik Yahudi", di Moskow. Mereka semua ditahbiskan sebagai musuh utama Third Reich. Dalam hari perayaan kemenangan partai tahun 1933, Goebbels menyerang "penetrasi Yahudi terhadap semua profesi kemasyarakatan (hukum, medis, properti, teater, dll.), dan mengklaim bahwa boykot negara luar terhadap Jerman yang digalang secara licik oleh para Yahudi telah memprovokasi adanya aksi tandingan di dalam negeri yang diorganisasi Nazi."

Kebencian Goebbels terhadap kaum Yahudi, yang sejalan dengan kebenciannya terhadap kaum kaya dan intelek, merupakan akumulasi dari pengalamannya di masa muda yang selalu direndahkan dan dilecehkan. Pada saat yang bersamaan, hal tersebut juga menjadi kambing hitam "ideal" bagi pencarian musuh bersama masyarakat Jerman, untuk mendukung pomobilisasian massa dan simpati orang banyak.
Selama lima tahun Goebbels menjadi orang terdepan pemerintahan Nazi dalam hal konsolidasi di dalam negeri dan mencari simpati dunia internasional. Kesempatan terbaiknya datang ketika terjadi peristiwa Kristallnacht (Malam Kristal) tanggal 9-10 November 1938, yang dia manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara membakar amarah rakyat dengan pidatonya yang berapi-api di depan para pimpinan partai yang berkumpul di Münich Altes Rathaus (Balai Kota Tua) dalam acara peringatan terhadap peristiwa Beer-Hall Putsch.

Tentu saja, hubungan antara dia dengan sang Führer yang dipujanya berjalan begitu eratnya. Dia bersama istri (Magda) dan keenam anaknya merupakan tamu tetap yang selalu disambut dengan baik di tempat peristirahatan Hitler yang berlokasi di Berchtesgaden, pegunungan Alpine. Pada tahun 1938, ketika Magda bertekad untuk menceraikannya karena kasus perselingkuhan tanpa henti yang dilakukan Goebbels dengan para artis cantik, adalah Hitler yang turun tangan langsung untuk meluruskan situasi dengan menyuruh Magda membatalkan niatnya, dan di lain pihak meminta Goebbels menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Dasar sudah memuja setengah mati, kedua suami istri ini benar-benar menjalankan titah dari Führer mereka, dan sejak saat itu tak pernah terdengar lagi kisah skandal dalam keluarga Goebbels!

Selama berlangsungnya Perang Dunia II, hubungan antara Goebbels dan Hitler semakin bertambah intim, terutama ketika situasi peperangan di berbagai front makin memburuk dan menjadi tugas utama Menteri Propaganda lah untuk mendorong rakyat Jerman berusaha lebih gigih lagi. Setelah Sekutu bersikeras untuk memaksakan penyerahan tanpa syarat, Goebbels malah menjadikan hal ini menjadikan satu keuntungan besar dengan meyakinkan para pendengarnya bahwa tak ada pilihan bagi mereka semua selain kemenangan atau kehancuran! Dalam pidatonya yang terkenal tanggal 8 Februari 1943 di Berlin Sportpalast, Goebbels telah menciptakan sebuah atmosfir yang mengaduk-aduk emosi liar para pendengarnya, dan membuat mereka mendukung penuh gagasannya untuk mobilisasi perang total. Manusia satu ini memang tak pernah kehilangan nyali dan semangat dalam hal-hal beginian. Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dirinya untuk membakar massa lewat orasi-orasinya yang disiarkan luas di radio, koran, dan media massa lainnya. Dia selalu memanfaatkan ketakutan Jerman akan datangnya "gerombolan dari Asia yang tak kenal ampun", dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kontrol atas pers, film dan radio untuk mempertahankan moral rakyat agar jangan sampai merosot. Diciptakannya mitos "senjata rahasia" yang akan membalik kekalahan menjadi kemenangan, dan juga tentang adanya benteng tak tertembus di pegunungan dimana pertahanan terakhir akan diadakan!

Karena pemikiran cepat dan aksi menentukan yang dilakukannya pada sore tanggal 20 Juli 1944 lah yang menyelamatkan Nazi dan Hitler, ketika dia mengisolasi para konspirator (Stauffenberg dkk) di Kementerian Perang, dengan mendapat bantuan dari pasukan-pasukan yang setia. Tak lama kemudian dia mencapai ambisinya untuk menjadi warlord front domestik, setelah Hitler menunjuknya sebagai panglima perang total yang berkuasa penuh pada bulan Juli 1944.

Setelah mendapat kekuasaan tertinggi untuk menggerakkan dan mengarahkan populasi sipil (dan bahkan untuk mendistribusikan orang untuk keperluan Angkatan Bersenjata), Goebbels semakin gigih mendorong pengorbanan rakyat Jerman lebih besar lagi. Tapi dengan situasi yang sudah begitu buruknya sehingga Jerman hanya tinggal menunggu kejatuhannya, sudah terlambat untuk melakukan apa-apa selain hanya menambah kebingungan dan dislokasi. Dengan semakin dekatnya akhir perang, Goebbels, orang yang dari pertama sudah dikenal sebagai sang oportunis sejati, kini tampil menjadi pengikut Führer paling setia. Dia membawa serta keluarganya ke bunker pengap yang ditempati Hitler dan menghabiskan hari-hari terakhir mereka disana. Dia begitu yakinnya bahwa Nazi telah menghancurkan semua jembatan dan bangunan yang tersisa (dan juga terpesona oleh bayang-bayang kehancuran total), sehingga kata-kata terakhir yang diucapkannya sebagai salam perpisahan adalah: "Ketika kami berpulang, biarkanlah bumi bergetar!"

Tak lama setelah Hitler bunuh diri, Goebbels mengacuhkan testamen politik terakhir Hitler yang mengangkatnya sebagai Kanselir Reich yang baru, dan memutuskan untuk mengikuti langkah pujaannya tersebut. Dia memerintahkan kepada seorang dokter SS agar keenam anaknya yang masih kecil disuntik dengan racun mematikan, tak lama setelahnya dia memerintahkan pula agar prajurit SS lain menembak dia bersama istrinya Magda. Semuanya itu terjadi tanggal 1 Mei 1945, hanya 1 hari setelah bunuh diri Hitler! Dengan karakter egomania dan kecemerlangan intuisi yang dimilikinya, dia membuat juga testamen terakhir tak lama sebelum dia tewas. Testamen itu berbunyi: "Kami akan tercatat dalam sejarah sebagai negarawan terbesar sepanjang masa, atau juga kriminal terbesar.
Oleh Linda Christanty

Pak Joko Widodo, selama lima tahun sampeyan gagal mewujudkan hal-hal terpenting dan krusial yang dibutuhkan rakyat Indonesia. Di masa pemerintahan sampeyan selama hampir lima tahun ini, penumbangan Hak-Hak Asasi Manusia, penyalahgunaan hukum dan wewenang, korupsi dan suap, pemiskinan dan perpecahan dalam masyarakat makin menguat.

Di masa pemerintahan sampeyan, kekuatan dan ketahanan negara ini melemah drastis, karena rakyat Indonesia teradu domba dan diadu domba. Pertama kali dalam sejarah Indonesia merdeka, rakyat dipecah belah oleh provokasi yang dilakukan oknum pejabat negara di masa pemerintahan sampeyan melalui ucapannya, yang menyinggung pemeluk agama mayoritas. Hal itu telah menandai politisasi agama oleh kekuasaan pasca Reformasi dan pertama kalinya terjadi ya di masa pemerintahan sampeyan ini.

Berapa triliun uang negara (uang rakyat) telah dihabiskan untuk menjaga oknum pejabat negara itu? Andaikata uang tersebut digunakan untuk menyejahterakan rakyat dan membantu korban-korban bencana alam yang sangat menderita di negeri ini akan lebih berguna.

Kerusakan itu telah terjadi dan cara mengatasinya ternyata makin menyuramkan keadaan di negeri ini. Sejumlah pendeta, pastor dan ulama dilibatkan untuk berpolitik dan menyokong kekuasaan. Ada yang menyebut Golput itu sakit mental, ada yang menyebut Golput itu haram. Tidak perlu kaum agamawan dari berbagai agama itu menggurui rakyat negeri ini dan menuduh-nuduh orang dengan menggunakan kata-kata yang buruk dan tidak sopan. Kalau pemerintahan sampeyan membuat kehidupan rakyat banyak tenang, damai dan sejahtera, tanpa diminta pun rakyat akan ikhlas dan suka rela memilih sampeyan lagi. Tanpa dihadiahi beras gratis atau uang dalam jumlah tertentu pun menjelang Pemilu, rakyat merasa terhormat dan suka cita memilih sampeyan lagi sebagai junjungan. Rezim sampeyan mungkin akan berjaya sebagai rezim yang bermartabat.

Para demagog di masa sampeyan bekerja seperti curut-curut lapar. Para pemeluk agama minoritas ditakut-takuti bahwa mereka akan mengalami nasib buruk tanpa rezim ini. Orang-orang Tionghoa yang menjadi salah satu suku bangsa dengan populasi terbesar (artinya bukan suku minoritas, melainkan satu dari lima suku bangsa dengan populasi terbesar di Indonesia) di negara ini juga ditakut-takuti bahwa para perempuan mereka akan diperkosa lagi, sedangkan para taipan bermesraan dengan kekuasaan dan menguasai tanah rakyat maupun tanah negara sebanyak jutaan hektar. Mereka juga berpolitik dan mendanai partai.
Orang-orang yang pernah dihilangkan paksa ditakut-takuti bahwa mereka akan dihilangkan lagi, sedangkan sampeyan pernah berjanji lantang hampir lima tahun lalu akan menindak para pelaku penghilangan paksa yang masih bebas dan kebal hukum itu dan mencari 13 korban yang belum ditemukan sampai sekarang, termasuk kawan-kawan akrab seperjuangan saya Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Suyat dan seorang kurir perjuangan yang terpenting dalam gerakan perlawanan kami, Bimo Petrus Anugerah. Jangankan mencari 13 orang hilang, tokoh utama pelanggar HAM dan pelaku kejahatan kemanusiaan yang tengah menjadi sasaran buruan dalam daftar penjahat kemanusiaan Perserikatan Bangsa Bangsa malah sampeyan jadikan menteri.

Di masa sampeyan pula hoax meraja lela. Menteri sampeyan sang pelanggar HAM itu mengancam pembuat hoax akan digolongkan sebagai teroris, tapi berdasarkan survei independen ternyata hoax terbanyak berasal dari kubu sampeyan sendiri.

Negeri ini yang sebagaimana negeri-negeri lain belum bebas murni dari masalah justru makin bermasalah di masa sampeyan. Masalah yang sudah ada menajam dan meluas. Masalah yang tak ada malah diciptakan dan disebarluaskan seperti wabah. Di masa kekuasaan sampeyan untuk pertama kalinya seorang oknum kepala polisi juga berkata secara terang-terangan akan berpihak kepada minoritas, bukannya menegakkan hukum yang adil terhadap seluruh rakyat dan bangsa ini.
Bagi rakyat jelata yang hidup di berbagai rezim, minoritas artinya segelintir orang atau segelintir pengusaha atau sekelompok kroni yang menguasai hajat hidup orang banyak atau menguasai mayoritas.
Pengrusakan lingkungan menguat di masa sampeyan. Kriminalisasi terhadap pejuang dan aktivis lingkungan hidup terjadi di mana-mana. Ibu-ibu Kendeng menyemen kaki di depan istana, karena menolak pabrik semen yang merusak lingkungan dan hidup mereka. Salah seorang ibu Kendeng yang berjuang dan menyemen kakinya di muka istana meninggal dunia. Budi Pego dituduh komunis dan hukumannya malah ditingkatkan Mahkamah Agung melebihi vonis hakim, karena dia menolak tambang emas. Adik saya Panglima Budhi Tikal ditangkap dan dijebloskan ke penjara melalui pengadilan sesat tanpa barang bukti yang sah dan relevan dari perkara yang dituduhkan kepadanya. Oknum aparat korup dan jejaring korporasi pertambangan ilegal terlibat dalam penangkapannya. Dalam pledoinya, adik saya mengatakan, “Negara ini dipimpin para kriminal yang tidak punya rasa malu dan kehormatan.” Dia juga mengatakan bahwa kekuatan korporasi telah masuk dan menunggangi pemerintahan dengan menjelaskan bahayanya bagi pemerintahan, negara dan rakyat Indonesia. Prediksinya bahwa resistensi yang terjadi di Papua Barat akan meningkat akibat praktik korporat dan pemerintah yang tidak bermartabat itu juga telah terbukti.

Oknum-oknum aparat dan penegak hukum makin sewenang-wenang di masa sampeyan. Di masa awal kekuasaan sampeyan pula kantor Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPR RI) diserbu oknum aparat kepolisian untuk pertama kalinya. Seorang petingginya ditangkap, seorang lagi diserang lewat isu moral. Mereka ini tengah membongkar perkara korupsi oknum pejabat tinggi kepolisian. Di masa sampeyan pula, Novel Baswedan, seorang penyidik KPK RI disirami air keras hingga buta total sebelah matanya. Kemungkinan diduga dia tengah menyelidiki kasus mega korupsi reklamasi 17 pulau buatan di Teluk Jakarta.

Di masa pemerintahan sampeyan, saya kehilangan banyak kawan. Mereka menyokong kekuasaan sampeyan dengan menutup mata terhadap kebenaran dan sebagian menjadi demagog-demagog yang seperti curut-curut itu. Tentu saja mereka harus tebang pilih perkara pelanggaran HAM dan hukum, mana perkara yang sekiranya mengganggu pencitraan sampeyan, mereka bungkam, mana yang bisa menaikkan dukungan terhadap sampeyan, mereka mendayagunakannya dengan slogan “kerja, kerja, kerja.”

Pak Joko Widodo, hampir lima tahun berlalu, saya masih ingat menghadiri kampanye terakhir sampeyan di Gelora Bung Karno, Jakarta. Saya bertemu dengan beberapa teman. Kami saling bersalaman, dengan penuh harapan. Kami sangat ingin sebuah pemerintahan sipil, bersih, bermartabat dan menyejahterakan rakyat terwujud. Waktu itu kami menganggap bila terpilih sebagai presiden Indonesia, sampeyan akan menjadi kebanggaan kami dan dapat mewujudkan Indonesia baru yang adil, sejahtera, dan mempersatukan segala suku bangsa.

Saya turut menyaksikan harapan wong cilik yang begitu besar terhadap sampeyan waktu itu. Pendukung-pendukung sampeyan yang menghadiri kampanye tersebut adalah mayoritas rakyat dari lorong-lorong kumuh kota, yang kelak sebagian besar kampung mereka diperintah untuk digusur oleh Pak Basuki Tjahaja Purnama sebelum beliau terkena perkara pidana hingga dijebloskan ke penjara. Mereka ini menjadikan kampanye terakhir sampeyan itu seperti sebuah perayaan. Ada yang membawa dua ekor ayam di keranjang sepedanya, sebagai ekspresi harapan. Ada yang menyeret-nyeret orang-orangan yang melambangkan kebaikan. Stadion itu menjadi saksi apa yang kami anggap akan menandai era baru Indonesia. Rakyat membagikan roti dan minuman murah. Tidak ada sumbangan partai. Semua dari rakyat jelata.

Hampir lima tahun berlalu, Pak Joko Widodo. Pembela sampeyan akan berkata banyak yang sudah sampeyan lakukan dalam hampir lima tahun ini. Mereka lalu menyebutkannya satu per satu. Puluhan jumlahnya. Tapi apa yang mereka sebutkan itu jauh dari harapan saya, yang dulu sampeyan janjikan secara lantang di masa kampanye 2014.

- Linda Christanty, cerpenis. Tulisan ini diambil dari laman Facebook Linda Christanty, 30 Maret 2019

Monday, April 22, 2019

(Pict contoh dari Kriteria diferensiasi  sosial berdasarkan ciri fisik dan adat istiadat)


Anthroplogi di ambil dari dua kata yaitu "anthropos" yang berasal dari yunani dan berarti manusia dan "logos" yang berarti wacana (bukan universal), dan secara istilah bisa di artikan ilmu yang mempelajari tentang manusia, terdengar mirip dengan sosiologi tapi bisa di lihat dari konteks pembahasan yang dimana antropologi lebih kepada budaya/etnis tertentu suatu masyarakat lain dengan sosiologi yang membahas sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat.
Pembahasan kali ini adalah salah satu dasar ilmu antropologi yaitu:

-Struktur sosial
-Ketidaksamaan sosial
-Dan diferensiasi sosial

1. Struktur sosial

A. Struktur sosial

Adalah pola hidup hubungan masyarakat yang saling timbal balik baik bersifat horizontal maupun vertikal dalam tingkatan nya.

B. Ciri-ciri struktur sosial

Seluruh kebudayaan masyarakat Mengacu pada organisatoris nyata pada sosial yang bersifat tahapan statis pada perkembangan nya.

C. Bentuk-bentuk struktur sosial

-Interested social structure
-Keanggotaan dalam kelompok sosial yang berasal dari latar belakang ras, agama dan suku yang berbeda.

- Consolidated social structure
Rivalitas masyarakat tentang penguatan identitas keanggotaan dalam kelompok sosial/masyarakat, yang biasa nya memunculkan primordialisme dan etnosentrisme.

D. Fungsi struktur sosial

-Pengawas sosial
-Sebagai penekan antar manusia dan penyifatan, norma, perilaku maupun kepercayaan kelompok sosial/masyarakat tertentu.
-Menanamkan disiplin sosial
-Masyarakat mendapatkan edukasi tentang kebiasaan, kepercayaan dan sikap suatu kelompok/masyrakat.

2. Ketidaksamaan sosial

A. Definisi ketidaksamaan sosial

Perbedaan ragam masyarakat dalam berinteraksi di sebut ketidaksamaan sosial, perbedaan penghargaan dan pola nya terhadap sesuatu memberikan tingkatan prestise lebih tinggi, contoh nya pada suatu masyarakat, seorang yang memiliki jasa pada penduduk setempat di anggap sebagai petuah/petinggi di banding dengan seorang yang punya kekayaan material, maka penduduk akan memberi prestise kepada petuah lebih dari masyarakat biasa.

B. Perbedaan ketidaksamaan

-Secara horizontal, yaitu perbedaan masyarakat yang parameter nya tidak ada tingkatan lebih tinggi maupun rendah. Contohnya perbedaan dalam jenis kelamin, mata pencaharian, ras, agama, sistem kekerabatan serta organisasi sosial lainya. Ini terjadi secara alamiah. Dalam sosiologi diistilahkan sebagai diferensiasi sosial.
-Secara vertikal yaitu pembedaan antar masyarakat yang menunjukan tingkatan sesuatu bisa lebih rendah maupun lebih tinggi. Contoh dalam hal pendidikan dan kekayaan, Ini merupakan dampak dari interaksi individu atau kelompok dalam masyarakat yang menghasilkan lapisan atau kelas-kelas sosial. Dalam sosiologi diistilahkan sebagai stratifikasi sosial.

C. Faktor ketidaksamaan sosial

-Ciri fisik yang dapat menghasilkan perbedaan atas jenis kelamin, warna kulit, maupun ukuran tubuh,termasuk ras atau suku bangsa.
-Kemampuan atau potensi diri yang dapat menghasilkan perbedaan atas dasar profesi, kekayaan,hobi dan sebagainya.
-Geografis yang dapat menghsilkan perbedaan mata pencaharian.
-Budaya yang dapat menghasilkan perbedaan atas dasar sistem kepercayaan atau agama, ideologi, sistem nilai, norman dan kekerabatan.
-latar belakang sosial yang dapat menghasilkan perbedaan tingkat pendidikan, peranan, prestise,dan kekuasaan.

3. Diferensiasi Sosial

A. Definisi diferensiasi sosial

-Pemebedaan masyarakat secara mendatar tanpa ada tingkatan petinggi atau di bawah nya berdasarkan ciri fisik tertentu, walaupun masih ada masyarakat yang rasialisme.
-Plural society, pengelompokan horizontal diistilahkan dengan kemajemukan sosial. Pengelompokan berdasarkan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.

B. Kriteria diferensiasi  sosial

1. Ras
-Mongoloid( kulit kuning dan coklat),
-Negroid (kulit hitam)
-Kaukasoid(kulit putih)
-Diluar ras pokok ini, terdapat ras khusus, seperti:
Austroloid,Veddoid, Polynesia,dan Ainu.
2. Suku bangsa
3. Suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yakni kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan
4.  Ciri fisik
5.  Kesenian
6.  Bahasa daerah
7.  Adat istiadat
8.  Agama
9.  Keyakinan pribadi tentang anutan(dogma) masyarakat yang berkaitan dengan sistem budaya, kepercayaan dan pandangan dunia.
10. Profesi
11. Profesi berkaitan dengan pekerjaan manusia dengan janji suatu kekhususan dalam bidang bersangkutan.
12. (Profesi dan pekerjaan itu berbeda)
13. Jenis kelamin
14. Jenis kelamin dan gender jelas berbeda, jenis kelamin lebih kepada ciri fisik biologis seseorang sedangkan gender merujuk pada peranan personal.

Sunday, April 21, 2019


Teringgat pada masa ketika menyonsong pagi di Sabang kala itu .
Suasana masih gelap saat saya menyusuri jalanan di Pulau Weh dengan motor menuju sisi timur pulau. Entah kenapa usai subuh saya begitu bersemangat ingin melihat sunrise di pulau dimana 0 km Indonesia dimulai ini. Tujuan awal saya adalah pantai Sumur Tiga. Namun pagi itu sang surya enggan menyingsing dari laut sekitar Sumur Tiga. Terbukti cahaya dari sang surya masih tampak remang-remang di timur jauh. Gas motor pun saya putar kencang kembali menyusuri jalanan. Walaupun sepi tapi jalanan di Pulau Weh ini membutuhkan refleks yang cekatan karena ketika hari masih gelap banyak sekali lembu yang dibiarkan liar memblokade jalanan. Beberapa kali saya terpaksa menginjak rem secara mendadak untuk menghindari tabrakan dengan para lembu yang masih bersantai. Mungkin dalam hati mereka juga terganggu dengan kehadiran saya.

Cahaya sang surya mulai tampak lebih terang dan jelas ketika saya berada di daerah Anoi Itam. Saya pun berbelok ke tempat yang dulunya merupakan Benteng Jepang. Memandang ke arah timur, rupanya sang surya masih betah bersembunyi di peraduan. Yang tampak jelas di kejauhan adalah siluet gunung Seulawah yang berada di Pulau Sumatra. Ini pasti akan menjadi pemandangan sunrise yang sangat indah.

Usai memarkir motor, saya menjejak setapak menuju ke puncak bukit kecil yang di atasnya berdiri kokoh benteng peninggalan Jepang. Cukup terengah saya menuju ke atas. Serta merta saya menyesal ketika bangun pagi tadi tidak minum air putih. Dan lebih menyesal lagi karena saya juga tidak membawa air minum yang bisa meredakan dahaga. Terlihat cahaya sang surya mulai terang. Tapi tetap saja dia masih sembunyi entah di balik awan atau di balik gunung. Saya kemudian masuk ke dalam bangunan benteng. Dan terlihatlah dengan jelas sudut pandang tentara Jepang dahulu dalam memata-matai musuh di lautan. Tersembunyi di dalam benteng, saya merasakan damai dan aman.

Lihatlah sang surya itu. Dia pasti terbit. Walaupun tertutup awan, tertutup gunung ataupun mungkin di tempat lain tertutup asap, debu, dan kabut, sang surya pasti akan selalu membuka hari tanpa jera. Walaupun di hari sebelumnya panas sang surya kalah dengan dinginnya hujan. Bahkan, di belahan bumi lain malah kalah dengan dinginnya salju. Tapi dia tetap memberikan kepastian membagi hangat sinarnya untuk kita semua.

Tiba-tiba saya tersadar, sang surya yang terbit hari ini tidak hanya mengawali sebuah pagi di bulan April, tetapi juga seperti mengajari saya tentang harapan di masa depan yang cerah. Whatever happened in the past stay in the past. Kegagalan, kesedihan, masalah, atau apapun hal buruk di masa lalu tidak perlu diingat dan dipikirkan. It’s time to move on. Dan pada akhirnya saya pun menemukan maksud dari quote Robb Sagendorph di atas. Saya menemukan perspektif dan sudut pandang sendiri ketika menyongsong mentari pagi ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 06.45. Dengan langkah kaki ringan saya mulai menjauhi benteng tanpa sempat melihat bulatan mentari muncul di langit.


Sabang, 22 April 2015