Thursday, March 7, 2019


Merepih rasa dari imaji yang berputar-putar.
Merasai bahwa cinta sanggup melesat secepat kilat namun juga bisa terjun bebas dan tersungkur kandas.
Cintamu pada satu hati itu telah menjadikan rasamu jumpalitan persis rollercoaster,
kadang kau sanggup dibuat terbang namun tak jarang pula kau jatuh tersungkur.
Dia membawamu pada semesta rasa yang akhirnya menjadikan cinta itu gentayangan seperti hantu yang takut matahari. Lalu kau
akhirnya seperti layang-layang yang menggantung tanpa benang kendali.
Cintanya telah membuatmu jadi mengerti satu hal, bahwa rasa yang kau kenali sebagai cinta tak cukup sekedar menikmati sedihnya kesendirian atau meledak-ledaknya rasa bahagia.
Cinta menjadi mendadak mahal dan langka,
mendadak menjadi barang langka dengan nilai tukar yang tak terbilang harganya.
Dan ketika cinta itu menghilang, terlepas dan meninggalkan lubang perih didada,
maka seluruh harmoni yang pernah kau kecap tentangnya seketika menghambar getir dan pahit.
Lalu batinmu akan meronta-ronta dalam senyapnya karena kehilangan sandaran.
Semua hal dalam radius pandangan matamu tak lagi menarik untuk kau tatapi atau kau pandangi.
Lidahmu seakan lebih menyukai aroma kebungkaman,
dan tubuhmu hanya sanggup meringkuk lemah tanpa daya seakan nafasmu dipaksa untuk berhenti.
Semua menjadi sia-sia dan percuma dalam perhitunganmu,
lalu kau mulai bermain dengan ribuan prasangka untuk membenarkan rasa sakitmu yang masih saja berdarah.
Semua perjalanan waktu yang pernah menyertai pengembaraan cintamu untuk dia akhirnya cuma menjadi deretan cerita yang menggantung tanpa akhir,
persis seperti laying-layang yang putus benangnya.
Kembalilah di detik ini
Detik dimana kau masih bergerak dan hidup.
Detik dimana segala pilihan dan opsi masih bisa kau jalani.
Bukan tujuan akhir tapi proses bukan kemana kau menggiringnya, tapi bagaimana kau melewati perjalanan itu
bukan sekedar merasai rasa memiliki seseorang tapi bagaimana kau menghargai setiap moment keberadaannya.
Inilah pembelajaran yang harus kau pahami dengan otak dan hatimu,
ketika rasa yang ada didalam hatimu tidak bersanding mesra dengan kenyataan didepan mata.
Kembalilah pada lingkaran dimana kau terlindungi dari cecaran emosi dan vonis yang ditelurkan oleh rasio
hingga akhirnya kau persis seperti pesakitan yang tidak punya pilihan apa-apa kecuali mati.
Dan pada hati yang satu itu pula
akhirnya kau harus kembali mengembara,
kembali pada ranah ktika jiwamu masih serupa ruh yang tak tau apa-apa
Hidup mendadak jadi asing. Dunia tak lagi sama, karena cinta yang telah bertumbuh sekian lama
akhirnya harus kembali patah.
Maka sempurnalah cinta yang telah membawamu terjun bebas untuk jatuh dan tersungkur kandas.
Lepaskanlah dirimu dari kenaifan cinta.
Meski perjalanan panjang harus kembali menggiringmu pada rotasi yang sama,
itulah bukti bahwa hidup ini bergerak dan cair.
Kau hanya butuh sekelumit waktu untuk  mencerna semua dalam gua keheningan.
MenyentuhNya dalam kesunyian yang damai. Menangkap pesan-pesan rahasiaNya yang tak bersuara
namun hanya sanggup kau pahami dengan hati jernih.
Cobalah melihat lebih jauh kedalam
Cinta bukanlah tali yang harus kau jeratkan dihatinya kuat-kuat, cinta juga bukan sebatas rasa takut kehilangan atau keinginan akan sebuah ikatan sakral.
Tetapi cinta hanyalah sebuah “rasa” yang benihnya disemai oleh restu Tuhan,
dan jelas benih itu bukan menjadi kuasamu, ketika ia bertumbuh dan merindang
dia bahkan tak mampu memilih siapa yang boleh dan tidak untuk berteduh dibawahnya.
Cinta menaungi segala hal, cinta melegalkan semua bentuk rasa dari hati yang tulus.
Tapi sadari satu hal, dalam kebebasannya, cinta tidak menerima pengingkaran,
cinta tidak memaklumkan perselingkuhan dan cinta juga tidak mewajarkan kebohongan putih.
Cinta hanyalah sebuah rasa
Sederhana
Meski terkadang tak terbaca atau bahkan terlalu menyilaukan
Dia tetaplah hanya sebatas sebuah “rasa”…dan dirimu seharusnya ada diluar lingkaran “rasa” itu,
supaya kau mampu mengendalikan rasamu sendiri.
Sama ketika kau dikepayangkan oleh rasa yang menggebu..
berjuta-juta anak panah dari busur cinta menancap didadamu, lalu seketika kau mabuk hilang kesadaran.
Batasan itu memuai, tak ada lagi ketidaklayakan, semua menjadi sempurna didepan mata.
Sebuah “rasa” telah melepaskanmu dari inti kedirianmu sendiri.
Kau terpana luar biasa, kau rela hati diporak-porandakan oleh ribuan pertanyaan dan pernyataan.
Kembalilah pada keheninganmu.
Hati itu terlalu letih.
Jika diandaikan, jatuh cinta seperti terperangkap dalam sebuah kotak sabun,aroma wanginya memabukkanmu,
meski kau terperangkap dalam dimensi sempit sebatas kotak sabun.
Terjepit dalam batasan ruang waktu yang hanya itu-itu saja.
Jatuh cinta,kasmaran dan merindu yang luar biasa untuk sang belahan jiwa.
Cintamu padanya ibarat sel yang bermutasi, sampai kau kecanduan dan tak sanggup tanpa keberadaannya.
Cinta mendadak menjadi begitu kerdil.
Menjelma sebatas keinginan.
Dan kau lupa meletakkan Dia didalam setiap inti sel cintamu, padahal ruh untuk cintamu meng-abadi
ada dalam kotak rahasiaNya.
Bagaimana mungkin Dia ijinkan kau membuka kotak itu jika tak pernah kau ijinkan untukNya ada disana.
Didalam inti sel cintamu itu. Maka jangan heran jika kotak itu semakin tertutup rapat dan terkunci kuat, lalu perlahan sel-sel cinta yang mengaliri darahmu melemah  dan mati.
Adalah kebesaran yang abadi, kuasa tak berbatas dari pemilik cinta nan perkasa.
Padahal hanya sebuah “rasa” namun sanggup menjadikanmu insan yang punya ribuan wujud rupa dan warna dalam batinmu
Hanya sebuah perasaan
Hanya sebuah rasa
Salah sedikit saja kau perlakukan dan jadilah hidupmu yang berakhir tanpa makna,
Cuma sekedar bisa merasai saja. Tak lebih dari itu.

Wednesday, March 6, 2019


Semakin dewasanya dunia seakan memaksa manusia sebagai insan yang sangat konsumerisme dan meterialistik, saya bukanlah seorang penganut paham marxisme yang patuh atau mungkin filsuf lainnya seperti aristoteles, Spinoza atau bahkan Erich Fromm yang sangat mengerti betul deretan karya Karl Marx mengenai sosialis dan humanis.

Pada awalnya, Berkembangnya sebuah peradaban dari abad ke abad membuat sebuah tatanan sosialis seakan berjalan mengikuti waktu dengan taat, dapat kita lihat pada abad ke-19 dimana sosialisme sampai pada akhir perang dunia I begitu bermakna humanis dan semacam gerakan spiritual pada beberapa benua, namun semakin cepat berjalannya waktu pada abad ke20-21 sosialisme kalah ketika berhadapan dengan semangat kapitalis yang dalam perjalanan awal ingin digusur oleh sosialisme, bahkan sosialisme dalam perjalanan sejarahnya tidak lagi dipandang sebagai gerakan pembebasan martabat namun banyak kalangan yang menganggap sebagai eksklufif gerakan kebangkitan ekonomi kelas buruh yang dengan sendirinya tujuan sosialisme dan humanistic terlupakan dan hanya sebgai pemanis bibir saja, yakni kembali menjadikan ekonomi sebagai tujuan utamanya.
Layaknya cita-cita demokrasi yang kehilangan akar spiritualitasnya, demikian pun cita-cita sosialisme kehilangan kedalamannya yaitu profetis-mesianis-perdamaian, keadilan dan persaudaraan manusia. Lebih jelasnya sosialisme dan humanistic digunakan sebagai alat mendongkrak ekonomi beberapa kelas dan telah melangkah jauh dari cita-cita dan tujuan awal mereka.

Itulah manusia dengan sifat aslinya, namun lebih daripada hal diatas yang saya paparkan saya akan berusaha untuk menjelaskan secara singkat dalam tulisan ini tentang bagaimana “Memanusiakan Manusia dan Menjayakan Manusia”. Diantara pembaca tulisan ini seakan bertanya keras nan bisu dalam sebuah tempat terdalam dihatinya tentang kata “Memanusiakan Manusia”. Yah, kata diatas saya ambil karena sebuah kesedihan mendalam ketika hari ini manusia telah melangkah terlalu jauh, bertindak terlalu gila atas realita hidup yang mengelilinginya. Memanusiakan adalah kata yang mewakili tulisan ini, semoga setiap paragraph singkat ini dapat menyadaprkan dan menumbuhkan jiwa-jiwa atau sisi kemanusiaan dalam diri kita masing-masing sehingga sepatutnya sadar bahwa apa yang sebenarnya kita hadapai tak lebih dari kebodohan dan keserakahan kita yang dahulu menginisiasi langkah serakah kita.

Alur tulisan saya kali ini adalah befokus pada kegiatan manusia pada abad ke 21 menuju abad 20 agar kiranya manusia menyadari apa langkah-langkah penuh penyesalan yang telah mereka perbuat. Pada tahapan awal saya akan masuk sedikit lebih dalam tentang kerusakan/factor pengrusak ketertiban dan kedamaian yang bahkan dimana PBB pun seakan menutup erat mata dan telinga mereka dari fenomena ini, Yah, Potensi Nuklir dan Bom Atom. Sebuah prestasi terbesar intelek manusia dimana senjata nuklir menjadi bahan untuk saling mengancam, saling membunuh dan saling menakuti negara lain dan disatu sisi mereka seakan tak menyadari bahwa realitanya yang menjadi tuan atas mereka semua adalah nuklir tersebut, manusia yang menciptakan nuklir namun sekarang dapat dilihat bahwa nuklirlah yang menjadi tuan, bukan lagi hamba. Kekuatan maha dasyat manusia seakan menjadi musuh umat manusia, dan sepatutnya kita berfikir bahwa masih adakah waktu untuk membalikkan arus ini.? Dapatkah kita kembali mengubahnya dan menjadi tuan atas situasi, bukannya situasi yang mengatur kita.? Mampukah kita mengatur barbarism yang semakin mengakar, yang membuat kita coba menyelesaikan masalah hanya dengan satu cara yang nyatanya tidak mampu menyelesaikan persoalan, kekerasan dan kekuatan atas senjata dan pembunuhan?
“sepatutnya kita merenung dan berfikir sejenak persoalan yang dihadapi oleh umat manusia”

Tuesday, March 5, 2019


Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya, selain sebagai suatu fase panjang yang harus kita lalui sebagaimana mestinya, untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan, namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.

Bagiku hidup dimulai ketika aku paham, untuk apa aku dilahirkan. Seperti sebuah perjalanan panjang menuju satu keabadian. Perjalanan yang tak akan pernah sanggup aku lalui sendirian. Melangkah sunyi, ditengah keramaian, perasaan terasing dalam sebuah pesta pora yang berujung huru hara. Sungguh, betapa sepi hidupku tanpa kehadiran peran-peran lain yang mewarnai setiap langkah hari demi hari.

Bagiku hidup bagaikan sebuah persinggahan dalam menjalani suatu perjalanan. Terkadang kita berhenti sejenak melepas lelah, menatap sekitar, menyaksikan polah tingkah orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Mempelajari sebuah rasa, sedih,marah, kecewa, tangis, bahagia, senyum, hampa dan kosong.

Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak, perlahan menjejak. Dalam perjalanan yang terkadang berbatu, terkadang mendaki dan terjal, menurun, tandus, penuh bunga. Bagaikan sebuah pentas drama raksasa yang penuh aktor menyelami perannya masing-masing. Dengan skenario diselembar kertas lusuh terlekat erat ditangan.

Aku bertemu pelangi, aku bertemu hujan yang merindukan bumi, aku menjumpai banyak sosok yang berperan penting dalam perjalanan hidupku. Dan aku menjumpaimu...menjumpai kalian..
Sosok yang kutemui dalam sebuah halte persinggahan ketika aku melepas lelah. Seorang yang malu-malu menyapa dengan hati-hati dan santun, hingga membuatku merasa perlu menjawab uluran perkenalan yang kau tawarkan. Menjawab sapaanmu menjadi suatu keharusan buatku dan bukan kewajiban.

Kamu akhirnya menjadi teman dan sahabat dalam perjalanan yang cukup menyenangkan, aku mengatakan cukup karena kita belum pernah saling bertatap muka, hanya sebuah perjalanan menyusuri ruang-ruang maya yang dingin dan beku. Sebuah percakapan ringan melompat dari satu masalah ke masalah lain, dari satu topik ke topik lain. Mengalir begitu saja.

Setelah hari mulai merayap senja. Setelah kita cukup tenaga untuk berjalan menempuh perjalanan panjang... Menemui peran-peran lain dalam kehidupan kita. mari bersama sama menggulung mendung agar hujan kembali reda, mari perbaharui dalam fase fase yang kaya akan warna :)

Saturday, February 23, 2019


Berkali-kali dia ucapkan politik “akal sehat” dan disandingkan dengan “politik harapan”. Dengan lagaknya yang kenyang filsafat, dia membuat diagram ideologi. Itu yang saya ingat. Dan keusilan saya memantik diskusi utilitarianisme.
Kesan saya saat itu, orang ini punya semangat yang tulus menjaga republik. Tentu, kesan sok Menteng itu yang tak akan lekang dalam horizon pikiran saya. Entah siapa yang lebih dulu, menorehka kalimat politik akal sehat diantara mereka. Dugaan saya semantik itu adalah rumusan Almarhum Syahrir. Dan Rocky hanya sebagai backing vocal dari suara Syahrir. Jika kita tidak ingin mengatakan Rocky adalah asisten Ci’il (Syahrir).
Yang pasti, politik akal sehat adalah sebuah pupuk terbaik untuk tumbuh suburnya kebangsaan kita. Setelah pertemuan itu, saya berkenalan lebih akrab dengan pikiran Rocky. Satu-satunya saluran yang paling mungkin adalah melalui media sosial.
Berkali-kali saya blusukan pasar buku-buku bekas, tak satu pun saya menemukan pikiranya yang termanifest dalam sebuah jurnal, apalagi buku. Singkat cerita, saya memaknai politik akal sehat adalah satu upaya mengambil alih fungsi sosial yang kerap ditinggalkan kaum intelektual. Apa itu? Sebagai kompresor dan kondensator. Filsafat sebagai pandangan hidup, seharusnya bisa mengaktivkan kedua fungsi kerja itu secara seksama.
Akal sehat bisa menjadi kompresor, disaat argumen-argumen publik dikelola tanpa melirik secuil kepentingan elektoral. Jika Rocky utarakan pendapat itu dilantamkan diatas podium elektoral. Maka sejatinya, pandangan itu harus mati atas nama peradaban. Karena kadar kontaminasi elektoral sudah begitu pekat.
Dalam hal yang lain, akal sehat juga menarik satuan elemen politik harapan. Dengan begitu, politik akal sehat berfungsi sebagai kondensator. Konflik dan segregasi sosial di redam dalam sebuah khazanah kebangsaan. Dan pada waktunya, energi yang tersimpan dialirkan untuk kemajuan zaman.
Saya tidak tahu, apakah Rocky memahmi fungsi-fungsi akal sehat itu. Atau, dia hanya mengulang tentang sesuatu yang diucapkan Ci’il, tanpa pernah mengerti satu kalimat pun.  Satu tahun lalu, di sebuah senja yang syahdu. Saya, Tumpak Sitorus dan seorang profesor hukum UI melakukan ritus akal sehat. Sore itu adalah ritus bagi kami. Cerita politik, filsafat dan ketololan penyebar kebencian. Bagi kita, itu semacam hiburan yang mendidik. Selain tetap mengaktifkan nalar kritis pada rezim penguasa.
Entah Malaikat mana, yang menuntun kita menentukan nama Rocky Gerung, sebagai subjek hiburan. Sang professor hukum membeberkan fakta begitu naifnya Rocky Gerung. Dalam peradaban maya Rocky berupaya mempertahankan reputasi sebagai “Devil Advocate”. Tapi sialnya, dalam keseharian Rocky adalah hamba sahaya dari sebuah persekongkolan oligarki politik. Ya, Rocky saat itu melatih AHY.
Tumpak Sitorus menguatkan saya. Orang yang pernah menjadi pimpinan Rocky Gerung saat membangun Partai Indonesia Baru. Besutan Dr. Syahrir. Tumpak meneguhkan, bahwa hidup Rocky mahal, sedangkan dulu hidupnya ditanggung oleh almarhum Ci’il. Dan Rocky, memang tidak pernah menjadi Dosen UI.
Sejenak, politik akal sehat saya aktif. Ada semacam hasrat akal sehat, membuka tabir basa-basi Rocky. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya menantang Rocky Gerung. Secara terbuka. Banyak orang yang tidak memahami.
Menerka, ini adalah soal popularitas. Sama sekali tidak. Harapanya, ini adalah perjuangan “Akal Sehat”. Prasyaratnya adalah kejujuran publik. Dalam hal ini, Rocky sudah jauh menyimpang dari khazanah pikiran Ci’il. Soal politik akal sehat. Rocky menipu daya publik, dengan retorika yang ditopang oleh bobroknya moralitas. Di situ, Rocky mulai demagog. Bersyair soal kedunguan. ( GEOTIME).
Fakta diatas tentu dapat dijadikan referensi oleh para pembaca sekalian dalam menarik kesimpulan terkait opini ini.  Pejuang akal sehat, tidak boleh terpancing dengan diksi “Kitab Suci Fiksi”. Akal sehat bergantung pada nalar publik, dengan begitu kita harus lebih percaya pada perbincangan publik. Tentu, tidak mudah. Kendati yang pasti, Rocky dan gerombolan boy band-nya sedang melakukan siasat jahat.
Siasat jahat itu adalah provokasi terhadap institusi Polisi. Mungkin sekarang Rocky sedang mengidam-idamkan Rizieq Shihab. Betapa jahatnya, maka dia sedang merelakan dirinya untuk dijadikan martir dari gerombolan pembenci Jokowi.
Secara perlahan, Rocky berhasil menghasut publik untuk mengkhianati keyakinan teologisnya sendiri. Dalam definisi agnostik, atau bahkan ateisme apa yang diucapkan Rocky mengandung kebenaran. Namun tetapi, dalam keyakinan liturgis itu bertolak belakang.
Jika saya mengacu dalam definisi Islam, perintah salat termaktub dalam ayat-ayat Al-Quran. Maka berarti, bagi saya Al-Quran bukanlah fiksi. Al-Quran adalah keyakinan yang bukan berlatar karangan.
Siasat jahat, berjalan efektif. Banyak orang membela Rocky, soal pernyataan Kitab Suci Fiksi. Para pembela itu, tentu mereka yang sepakat dan menerima perintah ibadahnya adalah sebuah karangan.
Mereka yang juga menerima dan yakin, bahwa peristiwa-peristiwa ilahiah juga karangan pencetak kitab. Siasat jahat Rocky, memiliki suksesi atas de-teologisasi. Satu upaya, merendahkan nilai-nilai keyakinan teologis.
Jika begitu, Anda berada di mana ?
Terkait bermanfaat atau tidaknya keberadaan Politik Akal Sehat  bagi Masyarakat  seharusnya dipertanyakan kepada masyarakat itu  meliputi apa saja yang sudah dihasilkan Politik Akal Sehat tersebut, bagaimana pengaplikasian politik akal sehat,. Apabila kemudian Politik Akal Sehat  ternyata tidak betmanfaat bagi masyarakat  menitikberatkan kesalahan tersebut  kepada pribadi masing masing yang tak kasat mata malah lupa akan belajar membaca sederet buku yang mampu mengubah dilema nya politik akal sehat sehingga menjadi pribadi yang mampu memahami apa itu politik akal sehat karena jika  seorang  telah memabaca dan malah berdusta akan politik akal sehat  maka dia adalah sebuah kemaksiatan intelektual karena pada faktanya dia sudah tahu.
.

Saturday, January 12, 2019

Sabtu,  12 Januari 2019
Tentang Kerinduan dan Penantian.

Saat ini aku sedang duduk di atas kursi plastik berwarna biru di sudut kamar kecilku.
Meringkuk dingin seperti kucing manja lantaran hujan turun dengan derasnya membasahi bumi.
Padahal siang tadi panas matahari sampai di puncaknya membuat gerah sebagian isi dunia.
Kurasakan tubuhku menggigil, malas kubergerak dan memilih diam saja di sini.
Juga hidungku mulai bereaksi dengan peralihan cuaca yang baru saja terjadi.
Mungkin juga karena dampak dari bentuknya yang mancung hingga pergantian debupun sedikit tersumbat.
Disusul kepalaku mulai berat dengan gejala flu ini.
Mataku menjadi berair karena terus bersin menggila.
Mungkin aku demam, suhu badanku drastis naik.
Aku tetap diam disini, hilang hasrat untuk melakukan apapun bahkan bermanja ria dengan gadget kesayanganku.
Kuintai jam dinding di ruang tamu yang dapat kulihat dari pintu kamarku.
Kebetulan kursiku bertengger di samping pintu bersebelahan dengan benda elektronik yang bisa berdetak seperti jantung itu.
Pukul sembilan lebih sekian menit.
Belum terlalu larut, dengan angka begitu hanyalah jam tidur untuk anak sekolahan.
Sedangkan aku, sudah cukup tua untuk itu.

Ada yang lebih penting di ingatanku.
Aku sedang merindu.
Merindu dengan seseorang yang sebenarnya kutahu berada di mana.
Namun tak bisa kuhubungi dan tak kunjung menghubungiku.
Itu alasanku memilih jauh dari handphone dan gadgetku karena menunggu kabar darinya sukses membuatku cemberut.
Aku tak mungkin menghubunginya duluan, walaupun tanganku sudah gatal kiri dan kanan untuk mendapat suntikan semangat darinya.
Aku lemas sempurna dengan keadaan ini sekarang.
Biasanya selalu ada sapaan singkat darinya di klipboard WAku meski hanya sekali dua kali dalam sehari, namun tidak beberapa hari terakhir.
Harusnya dia tahu, hanya hal kecil itulah yang menjadi ceriaku untuk   di bulan belakangan.
Juga biasanya, dialah pendengar dan pembaca setiaku yang mau tersenyum meski dalam lelah  dan tentang apapun aktifitasku.
Kulawan sakit ini, kulempar selimut yang sedari tadi melindungi kulitku dari sengatan dingin yang menusuk.

Kutarik selembar kertas HVS kosong yang masih rapi berada dalam kotak di bawah ranjangku.
Aku tidak punya diary, itu saja.
Media kertas apapun tak aku hiraukan asal aku bisa merusaknya, meremasnya, merobeknya bahkan membakarnya untuk menyiksa kejam benda tipis itu.
Lanjut kucari pulpen standart-techno yang biasanya sembarang kuletakkan dimanapun.
Mungkin karena harganya yang murah membuatku kurang menghargainya dan akan menyusahkan kusendiri saat aku membutuhkannya.
Maklum, jika benda murah yang hilang pasti jarang menjadi beban pikiran.
Lain halnya jika yang hilang adalah yang mahal.
Dan tak lama, kutemukan benda tak mahal itu berada dalam tas kecilku.
Sejak kapan tas kecil suka menyembunyikan benda tak mahal seperti itu.
Pasti tas kecil dan pulpenku tidak tahu, hidung tuannya semakin meler karena pilek mendadak yang menyerangnya semakin membabi-buta saat mencari mereka.
Benda murah kecil menyebalkan tapi sangat kubutuhkan.

Kuingin melancarkan aksi menulisku
Panggilan sayangku untuk seseorang yang pantas masuk DPO.
Sepantasnya dia kulaporkan ke polisi setempat, telah lebih 24 jam  itu hilang tanpa kabar.
Jelas aku khawatir.
Dia manusia, bukan benar-benar binatang mamalia langka di Kutub Utara yang kuculik ke negara tropis ini terus kupelihara.

Kubuka jendela reot rumahku memastikan keadaan di luar, jujur saja aku bukan orang kaya dengan jendela rumah yang harus berteralis untuk mencegahnya dari pencuri.
Toh, apa yang bisa dicuri dari rumah rupawan ini, tak ada.
Di hadapanku hanya jendela berventilasi biasa.
Dan mungkin sebentar lagi rubuh seiring menuanya usia rumah papanku.
Kudapati hujan mereda, namun dingin tersisa serta pilek semakin menyiksa.
Siapa yang peduli ?
Aku menjadi takut, takut dia malah memilih kabur kembali ke Kutub Utara dan menetap selamanya di sana.
Jika itu terjadi, tamatlah riwayatku dan habislah segala inspirasi dalam hidupku.
Aku mengernyit, ngeri.
Kututup kembali jendela ini sebab nampaknya angin pun dengan nakalnya sedang mengincar tubuhku.
Sudah, aku ingin menulis.

Kupilih ruang depan untuk menerima kebisuanku saat ini.
Duduk bersila di depan televisi tanpa ingin meliriknya sedikitpun.
Sambil kusandarkan bahuku di dinding bawah jendela lain rumahku.
Membayangkan wajah manis dia yang lucu.
Manis sekali, memang sewajarnya aku merindukannya.
Lalu retina mataku tepat menangkap meja belajar kecil milik adik bungsuku yang berada tepat di depanku.
Dengan sedikit lesu aku mengambilnya dan kemudian kembali duduk ke tempat semula.
Aku bersyukur, bungsu sudah tidur karena biasanya dialah makhluk kecil bawel namun cengeng yang sangat pelit dan akan marah jikalah benda benda miliknya disentuh.
Sedikit hal lain yang membuatku terhibur, gambar meja belajar ini adalah pemeran tokoh di film-film Barat yang terkenal dengan animasi binatangnya.
Dan salah satunya Beruang di film The Golden Compass, namun maaf aku tak kenal namanya.
Aku memang suka menonton film, tapi tak sefanatik itu harus berkenalan dengan segala makhluk yang muncul di dalamnya.
Yang jelas, di meja itu ada gambar beruang berbaju besi yang sedang menganga dan daya akomodasi mataku berhasil memperjelas penglihatanku menjadi lebih jelas.
Ternyata besar juga pengaruh makhluk raksasa itu dalam indahnya kehidupan khayalanku.

Dan inilah salah satu hobiku, saat malas mengguncang mulut berduet dengan manusia, aku lebih memilih menuangkannya dalam coretan-coretan tinta.
Aku lebih senang berdiam diri dan saat itu tiba, aku takkan peduli dengan apapun di sekitarku.

Di otakku saat ini beradu antara emosi dan tangan untuk menghasilkan tulisan jauh lebih menarik dari apapun.
Aku harusnya wajib bersyukur, memiliki otak korslet seperti ini dan kuyakin tak kebanyakan orang memilikinya.
Aku hanya akan terinspirasi menulis jika sedang terperangkap dalam Zone Kacau Menggalau mirip seperti saat ini, otak korsletku akan bekerja semaksimal mungkin meski harus menyisakan kerut di wajahku dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Malangnya kelebihanku.

Kuletakkan HVS menutupi beberapa gambar meja belajar ini.
Tak terkecuali gambar beruang itu sendiri.
Kuayunkan pulpen murah tadi di atas kertas HVS yang masih suci.
Kucoba merangkai huruf demi huruf dalam khayalan untuk menodai kertas ini.
Menilik satu demi satu susunan kata berhias pulpen bertinta biru.
Mengemas asa dalam lembaran sajak kerinduan.
Lalu kubiarkan hening mengambil alih jiwaku.
Memintal gelapku di atas lembar yang haus akan
dirimu.
Terpaku bukan tanpa nada dan ada raga ku yang masih bernyawa.
Tapi, semua tak tertuang dalam HVS ini.
Masih kosong.

Kukejar lagi ingatan tentang dirimu.
Terlalu banyak atau terlalu sedikit atau bahkan tak ada.
Kupaksa menulis apapun yang terbersit di pikiranku.
Aku gagal.
Tak kutemukan kata pertama yang tepat untukmu.
Bukan tak ada, tapi aku ingin kata pertama adalah kata akhir yang indah untuk kita berdua.
Pelaminan misalnya.
Namun naas, aku gagal.
Asaku terlalu tinggi dan melebar.
HVS ini masih bersih, tetap saja kosong.

Kurampas sisi menyebalkan dirimu.
Sisi yang suka tak bertanggungjawab atas rasa rindu yang kau tinggalkan.
Sisi menyebalkan namun adalah sisi terbaik dirimu.
Yang selalu membuatku mengingatmu saat apapun dan dimanapun aku.
Kali ini, lebih gagal.
Pulpenku pun hanya melayang-layang di udara mulai tak sabar ingin mendarat di HVS ini.
Tak tersentuh, dan HVS pun masih kosong.

Aku semakin geram.
Tak biasanya kertas sasaranku masih putih bersih kosong tanpa hiasan.
Meski hanya satu tanda baca saja.
Padahal sedari tadi hati kecilku terus berkomat-kamit mencari mantera jitu penangkal kekosongan.
Aku hanya ingin tulisan ini menjadi yang terindah dari yang indah untukmu.
 kekasih hatiku.
Tak boleh ada cela, tak boleh ada salah.
Tak boleh.
Jangan!
Kuangkat kepalaku beristirahat sejenak memandang langit-langit rumah.
Moga-moga saja tertuang inspirasi dalam lamunan ini.
Menghela nafas dalam-dalam hingga kurasa langit-langit rumahpun seakan mengejekku.
Diikuti cekikikan seram di dalamnya lalu kemudian tertawa dan berteriak memanggilku.
Ah fatamorgana, suara itu hanya berasal dari
Aku tak peduli.

Aku akhirnya tersadar, ada yang terlupakan.
Lekas kuberdiri dan berjalan lunglai menuju kamar mengambil gadgetku yang sudah membengkak terisi daya dan kembali duduk seperti tadi.
Mungkin aku butuh sedikit hiburan sementara imajinasiku terus mengkhayalkan tulisan di HVSku.
Baru sejam aku duduk membodoh di sini.
Tak ada hasil.
Lembaran untukmu masih kosong,
Dimana dirimu?
Apa kabarmu?
Ingatkah kau ada aku yang menunggumu?
Sayang, aku rindu.

Kuputuskan keluar rumah dan berayun di teras karena keadaanku mulai membaik.
Tak lagi sedingin tadi.
Meski sesekali aku masih bersin dan hidungku kembang kempis menggoyangkan ayunan ini.
Bola mataku berputar bebas memandang langit gelap tak berawan di atas sana dalam posisi berbaring berselimut kain dipeluk ayunan berjaring ini.
Hampa jiwaku menghantui diriku sendiri.
Sayup-sayup angin kini memecah keheningan malamku.
Semoga dapat apa yang kuinginkan tentang HVSku di dalam sana.
Agar tak lagi kosong untuk kuhadiahkan padamu.
Karena aku merasa melihat bayangmu di atas langit itu
Apakah kau sedang melakukan hal yang sama denganku ?
Pastilah tidak, aku tahu.
Kau terlalu bodoh untuk tahu bahwa di langitpun bisa terlukis abadi sketsa wajahmu dengan sihirku.

Barulah kuingin sibuk dengan gadgetku dan lalu konsentrasiku buyar lantas terdengar suara orang lewat berteriak-teriak.
Kukira benar adanya para syaitan selama bulan ini.
Namun mengapa para kuntilanak itu semakin menjadi-jadi di jam segini berkeliaran tak karuan.
Tidak sopan.
Bagaimana mungkin aku menikmati kerinduan ini dengan gangguan besar seperti itu.

Kudengar handphone kecilku berdering dalam kamar.
Kuajak masuk bayangan Ber-Kut yang masih di langit untuk menemaniku malam ini saja.
Dan kutinggalkan kejengkelanku dengan para kuntilanak itu semoga kembali pulang ke alam mereka masing-masing.
Aku keluar lagi menuju ayunan ingin melanjutkan prosesi galau yang tertunda.
Tentunya dengan raut wajah yang semakin keriput.

"Sabar ya,  Sedikit lagi untukmu, akan selesai indah sayang, sabarlah." batinku menghibur.

Baru kali ini batinku tak mengajak berperang.
Mungkin bosan dengan tingkahku yang sama sekali tak ingin mengalah bahkan dengan diri sendiri.
Apalagi dengan kegagalanku menulis untuk dia.
Kuputuskan mengunci pintu dan langsung duduk lagi di singgasana dengan pemandangan HVS kosong.
Masih nihil frase kata.
Kurogoh kantong celanaku melihat ada perkembangan apa di gadget ku yang sedang teraniaya tanpa berita pujaan hatinya.
Oh tidak, betapa banyak inbox Fb dan WA yang minta digilir untuk kubaca.
Ada simbol pesan juga di sudut kiri gadgetku, namun bisa kuramal bahwa itu pastilah dari 'sebut saja Telkomsel'.
Ikut meramaikan alasanku untuk semakin cemberut.
Juga beberapa permintaan pertemanan baik di Fb
Aku tak punya Soc-Med lagi selain itu, jadi hanya itu yang bisa kurincikan untuk dia




Semakin keras aku menambah dosa dengan meradang begini, akhirnya alarm alam berbunyi.
Perutku berkreok dan dengan cepat syarafku merespon ke otak.
"Kau lapar." Kutangkap suara itu berasal dari perutku.
Sebenarnya yang lebih aku tunggu adalah kode dari mataku, agar lekas mengantuk dan tidur.
Namun salah.
Mata takkan bisa terpejam jika sang perut terus berdemo bersama para cacing.
Harusnya aku memang tak tidur sebelum HVS ku terisi.
Jangan sampai aku ketiduran.
Bunyi perut semakin membeludak.
Kerja lambung yang patut diacungi jempol.
Dan aku memang baru ingat, selepas pulang aku hanya sempat menyeruput kopi.
Laparpun tertahan karena rindu, hebatnya.
Kembali tiba-tiba terkesiap sebuah pertanyaan di pikiranku, "Apakah dia sudah makan atau justru belum sama sekali?".
Aku tak tahu apa jawaban pertanyaanku itu.
Gelap.

Kupilih tak akan makan.
Persetan dengan cacing anarkis dalam perutku.
Aku tak bernafsu sama sekali untuk menelan segala makanan yang ku tak tahu rela atau tidak dimasukkan ke dalam mulut dan akhirnya berakhir di usus besar lalu mungkin di pembuangan.
Akhirnya, aku menyerah.
Menyerah bukan berarti tak konsisten dengan HVS kosong di depan bola mataku ini.
Terlintas cara lain di pikiranku, sekarang.

Di sini aku selalu menunggu kabarnya.
Lama atau sebentar, cepat atau lambat.
Rindu atau tidak dia padaku.
Kusengaja tak menghubunginya duluan.
Aku terlalu menghargainya.
Aku tak ingin menjadi pengemis perhatian jika harus menerornya dengan panggilan-panggilan dan pesan-pesanku.
Takut-takut jika aku hanya mengganggu.
Aku hanya akan menunggu.
Menunggu tanpa sedetikpun tak ingat dirinya.
Tanpa sedetikpun tak khayalkan bayangnya.
Menunggu.
Menunggu sebuah ketidakpastian.
Dan ini caraku.
Caraku mencintainya.
Aku tahu dia terlalu berharga dalam hidupku.
Terlalu berharga untuk berdekatan dengan pengemis-pengemis meski dari berbagai aliran.
Pengemis beraliran cinta salah satunya.
Tapi aku takkan beralih profesi ke aliran itu jika hanya inginkan kabar darinya.
Karena menunggu jauh lebih terhormat dibandingkan mengganggunya.
Kuhadirkan selalu namanya dalam bait doaku kepada yang di Atas.
Jangan siksa dia
Datanglah.

Datanglah!
Kan kutunjukkan lembar HVS kosong ini untukmu.
Simaklah!
Lihatlah aksara tak kasat mata ini.
Ini adalah aku padamu.
Di sana meluap cerita tentangmu.
Begitu banyak cerita hingga tak tahu harus kumulai
darimana.
Semalaman suntuk aku tak bisa tidur karenamu.
Semalaman suntuk aku hanya bersama bayanganmu.
Merana merindu nestapa.
Sayang,
Lembar HVS kosong ini saksi semua laraku malam ini tentangmu.
Lara hati yang terus memanggil namamu.
Bacalah sayang!
Bacalah bukan oleh mata, melainkan hatimu.
Jikalaupun lembaran ini terbentang seluas alam semesta.
Serta samudera sebagai tintanya.
Aku takkan mampu menulisnya untukmu.
Bukan tak ingin kumenyelesaikan lembar HVS kosong ini.
Hanya akan menjadi sekat jika kau tetap tak mengingatku.
Aku membisu semalaman ini.
Bukan berarti kumatikan ingatan tentangmu.
Kuyakini kau hidup dalam hembusan nafas dan pikiranku.
Kunyanyikan lagu cinta ini untukmu dalam hatiku.
Bukan pada lembar yang dapat usang.
Bukan pada lembar yang akan rusak, sobek, terbakar ataupun hilang.
Inilah lembar kosong saat kau hilang sehari semalam tak ingat aku.
Inilah lembar kosong saat kau hilang,
Sehari semalampun menjadi waktu terlama tanpamu.
Tetapi harus kau tahu tidaklah kosong keberadaanya demi dirimu.

Seiring mataku semakin meredup.
Mulutku mulai acap menguap.
Kulihat jam telah menunjukkan pukul 01.58 pagi
Mungkin inilah yang perlahan memadam emosiku yang membara sedari tadi.
Aku mengantuk dan lelah.
Kurapikan seluruh perlengkapan menulisku dengan malasnya dan tak lupa kukembalikan meja belajar bungsu ke tempat semula dengan dalih mencari aman dari serangan air mata kepelitan.
Kupeluk erat HVS kosongku.
Meskipun akan rusak dalam dekapanku aku tak takut.
Ini HVS kenangan karena hadir saat kau hilang.


Dan terputarlah lagu sendu itu.
Kuletakkan gadgetku tepat di sampingku.
Sedang aku masih memeluk lembar HVS ku.
Kudengar alunan musik ini berirama....

"When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.
When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
I know you haven't made your mind up yet,
But I will never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.
I'd go hungry; I'd go black and blue,
And I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love
....................................."

Aku masih dalam keadaan sadar dan mengerti betul arti lagu ini.
Tepat menggambarkan cintaku pada mu.
Jikalah cinta ini salah.
Aku ingin seseorang menampar keras wajahku.
Jika memang aku telah berdiri pada jalur yang tak seharusnya.
Aku ingin seseorang menarik paksa ku pulang.
Dan jika aku mulai banyak menuntut yang bukan hakku.
Aku ingin seseorang memelukku dalam bekunya hatimu.
Dan lalu telah sampai pada bait mana lagu itu aku tak lagi fokus.
Aku mulai kehilangan kesadaran.
Peri mimpi secepat kilat menjemputku yang telah penat.
Bersama HVS kosong ini kupeluk erat bayangmu.
Semoga kau lekas datang memberiku kabar kebahagiaan.
Jangan hanya hadir dalam mimpiku!
Jadilah masa depanku yang nyata.
Ada aku dan lembar kosong kita yang menantimu.
Tugas lagu itu selesai.
Dan aku pulas, tertidur.